Label

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Mei 2011

Abstrak

Nama : Wahyu Ardimas

Kelas : 3EA10

NPM : 11208271

Abstrak

o Menurut American National Standards Institute (1979), definisi abstrak adalah representasi dari isi dokumen yang singkat dan tepat.

o Abstrak merupakan bentuk ringkas dari isi suatu dokumen yang terdiri atas bagian-bagian penting dari suatu tulisan, dan mendeskripsikan isi dan cakupan dari tulisan

o Dua konsep utama dalam membuat abstrak:

o Conciseness

o Significance

o Fungsi / Tujuan abstrak:

o Current awareness: memudahkan para pembaca untuk mendapatkan informasi terbaru tentang suatu bidang yang diminati, tanpa harus membaca seluruh isi dokumen

o Menghemat waktu pembaca

o Melanjutkan membaca atau tidak ?

o Menghindari terjadi duplikasi tulisan

o Keyword : memudahkan dalam penyimpanan secara elektronis

Isi Abstrak

o Hasil (result)

o Apa konsekuensi dari permasalahan atau isu yang didiskusikan penulis ?

o Rekomendasi (recommendations)

o Apa solusi yg ditawarkan penulis ?

o Apakah penulis merekomendasikan perubahan atau aksi tertentu ?

o Kesimpulan (conclusions)

o Apakah penulis menggambarkan hubungan “cause & effect” ?

o Apa kesimpulan yang dibuat oleh penulis dari studi yang dilakukannya ?

Tipe Abstrak

§ Descriptive Abstract

o Berisi informasi yang terdapat pada tulisan

o Berisikan tujuan, metode, dan cakupan dari tulisan

o Tidak mencakup hasil, kesimpulan dan rekomendasi

o Biasanya sangat pendek

o Memperkenalkan kepada pembaca tentang subjek dari tulisan

o Informative abstract:

o merupakan substitusi dari dokumen

o Berisi spesifik informasi dari tulisan

o versi miniature dari dokumen yang mencakup tujuan, metode, cakupan, hasil, kesimpulan dan rekomendasi dari tulisan

o Pendek, biasanya 10 % dari panjang tulisan

o Biasanya digunakan dalam laporan penelitian

o Descriptive Abstract

This paper presents the results of some experiments investigating the use of Neural Network in the learning engine of an Connectionist Information Retrieval System called CIRS. CIRS uses the learning and generalization capabilities of the Back Propagation learning algorithm to acquire and use application domain knowledge in the form of a sub-symbolic knowledge representation. This paper describes the architecture of CIRS and reports on experiments on three different learning strategies.

*) Crestani, Fabio, “Domain Knowledge Acquisition for Information Retrieval using Neural Network”, Department of Computing Science, University of Glasgow, Scotland, 1994.

o Informative Abstract

Artificial neural networks have proven to be a successful, general method for inductive learning from example. However, they have not often been viewed in terms of constructive induction. We describe a method for using a knowledge-based neural network of the kind created by the KBANN algorithm as the basis of a system for constructive induction. After training, we extract two types of rules from a network: modified versions of the rules initially provided to the knowledge-based neural network, and rules which describe newly constructed features. Our experiments show that the extracted rules are more accurate, at classifying rules are more accurate, at classifying novel examples, than the trained network from which the rules are extracted.

*) Towell, Geoffrey, G, et al, “Constructive Induction in Knowledge Based Neural Network”, Department of Computer Science, University of Wisconsin, 1991.

Abstract vs Introduction

o Abstrak

o Merupakan overview dari seluruh essay/laporan/tulisan

o Pendahuluan (Introduction)

o Merupakan gambaran umum dari permasalahan, alasan dan latar belakang kenapa permasalahan yang akan dikembangkan tersebut penting.

Qualities of Good Abstract

o Menggunakan satu atau beberapa paragrap yang baik, merupakan satu kesatuan (unified), koheren, concise dan dapat berdiri sendiri (able to stand alone)

o Mengikuti kronologis dari tulisan

o Adanya transisi secara logika diantara informasi yang diberikan

o Tidak menambahkan informasi baru, hanya meringkas laporan/tulisan

o Dapat dimengerti oleh banyak pembaca

Steps for Writing Effective Abstracts

o Tulis Draft Kasar, tanpa melihat tulisan lagi

o Jangan hanya mengkopi kalimat kunci dari tulisan: Anda akan mendapatkan informasi yang terlalu banyak atau informasi yang terlalu sedikit.

o Buat ringkasan informasi dengan bahasa sendiri

o Revisi Draft Kasar tersebut dengan:

o Membetulkan kesalahan strukturnya

o Tingkatkan transisi dari point satu ke point lainnya

o Buang informasi yang tidak berguna

o Tambahkan informasi yang tertinggal

o Hilangkan kata-kata yang tidak perlu

o Betulkan kesalahan ejaan, grammar, dsb.

o Cetak dan baca lagi

Abstract Tips

o Buat supaya pekerjaan Anda terkesan menarik

o Hindari bahasa yang panjang dan kompleks

o Hindari penggunaan jargon (hyperbolis)

o Tetapkan batasan kata dalam setiap kalimat

o Pastikan bahwa abstrak sudah mencakup seluruh point penting dalam tulisan

o Abstrak pendek (100-300 kata) untuk artikel dan paper biasanya dalam satu paragraph sedangkan abstrak yang lebih panjang, untuk tesis dan laporan bisa dalam beberapa paragraph

Sumber : http://staf.cs.ui.ac.id/WebKuliah/Scientific-Writing/Abstrak.ppt

resensi

Nama : Wahyu Ardimas

Kelas : 3EA10

NPM : 1208271

A. Pengertian Resensi
Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya, baik itu buku, novel, majalah, komik, film, kaset, CD, VCD, maupun DVD. Tujuan resensi adalah menyampaikan kepada para pembaca apakah sebuah buku atau hasil karya itu patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak. Yang akan kita bahas pada buku ini adalah resensi buku. Resensi buku adalah ulasan sebuah buku yang di dalamnya terdapat data-data buku, sinopsis buku, bahasan buku, atau kritikan terhadap buku.
Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Artinya melihat kembali, menimbang, atau menilai. Arti yang sama untuk istilah itu dalam bahasa Belanda dikenal dengan recensie, sedangkan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Tiga istilah itu mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas buku. Tindakan meresensi dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengkritik buku. Dengan pengertian yang cukup luas itu, maksud ditulisnya resensi buku tentu menginformasikan isi buku kepada masyarakat luas.
Ada yang berpendapat bahwa minimal ada tiga jenis resensi buku.
1. Informatif, maksudnya, isi dari resensi hanya secara singkat dan umum dalam menyampaikan keseluruhan isi buku.
2. Deskriptif, maksudnya, ulasan bersifat detail pada tiap bagian/bab.
3. Kritis, maksudnya, resensi berbentuk ulasan detail dengan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Isi dari resensi biasanya kritis dan objektif dalam menilai isi buku.
Namun, ketiga jenis resensi di atas tidak baku. Bisa jadi resensi jenis informatif namun memuat analisa deskripsi dan kritis. Alhasil, ketiganya bisa diterapkan bersamaan.


B. Unsur-unsur Resensi
Daniel Samad (1997: 7-8) menyebutkan unsur-unsur resensi adalah sebagai berikut:
1. Membuat judul resensi
Judul resensi yang menarik dan benar-benar menjiwai seluruh tulisan atau inti tulisan, tidakharus ditetapkan terlebih dahulu. Judul dapat dibuat sesudah resensi selesai. Yang perlu diingat, judul resensi selaras dengan keseluruhan isi resensi.
2. Menyusun data buku
Data buku biasanya disusun sebagai berikut:
a. judul buku (Apakah buku itu termasuk buku hasil terjemahan. Kalau demikian, tuliskan judul aslinya.);
b. pengarang (Kalau ada, tulislah juga penerjemah, editor, atau penyunting seperti yang tertera pada buku.);
c. penerbit;
d. tahun

terbit beserta cetakannya (cetakan ke berapa);
e. tebal buku;
f. harga buku (jika diperlukan).
3. Membuat pembukaan
Pembukaan dapat dimulai dengan hal-hal berikut ini:
a. memperkenalkan siapa pengarangnya, karyanya berbentuk apa saja, dan prestasi apa saja yang diperoleh;
b. membandingkan dengan buku sejenis yang sudah ditulis, baik oleh pengarang sendiri maupun oleh pengarang lain;
c. memaparkan kekhasan atau sosok pengarang;
d. memaparkan keunikan buku;
e. merumuskan tema buku;
f. mengungkapkan kritik terhadap kelemahan buku;
g. mengungkapkan kesan terhadap buku;
h. memperkenalkan penerbit;
i. mengajukan pertanyaan;
j. membuka dialog.
4. Tubuh atau isi pernyataan resensi buku
Tubuh atau isi pernyataan resensi biasanya memuat hal-hal di bawah ini:
a. sinopsis atau isi buku secara bernas dan kronologis;
b. ulasan singkat buku dengan kutipan secukupnya;
c. keunggulan buku;
d. kelemahan buku;
e. rumusan kerangka buku;
f. tinjauan bahasa (mudah atau berbelit-belit);
g. adanya kesalahan cetak.
5. Penutup resensi buku
Bagian penutup, biasnya berisi buku itu penting untuk siapa dan mengapa.

Contoh :

Awa Bosan Jadi Komodo

Judul Buku : Awa Bosan Jadi Komodo
Peresensi: Hendrinova
Penulis : Meidya Derni
Penerbit ; Pustaka Al-Kautsar For Kids
Cetakan : Pertama, Oktober 2009
Tebal : 49 halaman

Proses mengajari anak budi pekerti yang baik, bermula dari kebiasaan ibu atau sang ayah mendongeng buat anaknya. semakin banyak mendongeng, tidak hanya memperkaya pengetahuan anak, tapi juga sekaligus memoles tingkah lakunya.

Sayangnya, dongeng yang ada sekarang, kebanyakan tidak disentuh nilai-nilai religi. Dongeng kancil saja misalnya. Dari dulu, orangtua melabelinya binatang yang cerdik. Tanpa memilah, kece rdikan seperti apa yang dimiliki kancil.

Tak jarang, kancil memanfaatkan orang lain untuk kesenangan ataupun keselamatan dirinya. Demi egonya, ia tega menipu dan membuat dendam binatang lainnya.

Untuglah sekarang, dongeng Islami mulai menggeliat. Termasuk dongeng-dongeng binatang, dengan sentuhan nilai-nilai agama. Sehingga setiap tindakan pe laku dalam dongeng, selalu dikontrol oleh agama.

Seperti buku berjudul ‘Awa Bosan jadi Komodo’ ini. Diceritakan, bagaimana Awa seekor anak komodo yang tidak mensyukuri tubuh yang ia miliki. Ketika melihat burung yang gampang terbang dan pindah ke sana ke mari, ia pun iri dan ingin pula jadi burung.

Berdi si burung yang dikagumi Awa, dengan ikhlas mau mengajarinya. Awa kemudian disuruh membuat sayap. Sayang, sayap daun yang dibuat Awa, malah membuat jatuh berdebam ke bumi.

Berdi kemudian menyuruh Awa memakan biji-bijian, sebagai syarat menjadi burung. Ia juga disuruh memanjat pohon, untuk bisa masuk dan keluar sarang. Awa pun menurut, walau akhirnya dongkol sendiri.

Biji-bijian yang dimakan Berdi ternyata pahit di lidah Awa. Ia pun tidak bisa mengunyah, dan lebih memilih memuntahkan biji-bijian yang ada dalam kerongkongan.

Dari pelajaran itu, Awa akhirnya bersyukur telah menjadi komodo. Ia bisa makan daging enak dan punya rumah yang besar. Awa pun akhirnya menghapus keinginannya untuk jadi burung.

Setidaknya ada empat dongeng binatang yang terkandung dalam buku ini. selain kisah Awa, juga ada kisah Apoda, si burung cendrawasih yang sombong pada saudaranya sendiri.

Berikutnya kisah Pongo, anak orangutan yang takut memanjat. Berkat latihan keras yang diajari ibunya, ia akhirnya bisa memanjat pohon dan berayun dari satu pohon ke pohon lainnya.

Kisah Anno anak Anoa tentu tidak kalah serunya. Anno yang dicueki penghuni hutan lainnya karena mengajak mereka be rmain, memilih sibuk dengan diri sendiri.

Namun hatinya tersentak, saat mendengar Buba anak Anoa lainnya berteriak minta tolong. Kakinya tersangkut dan itu segera dilepaskan Anno. Tak disangka, Buba membalas jasa Anno dengan bermain bersama.

Buku ini tentu tidak sekedar dongeng. Juga ada selipan ilmu pengetahuan terkait binatang yang diceritakan. Sehingga pembaca bisa membayangkan, sosok utuh makhluk yang dimaksud dengan segala faktor penunjang hidup.

Sumber :

http://jajawilsa.blogspot.com/2009/05/pengertian-resensi.html

http://renggap.co.cc/kumpulan-contoh-resensi-buku/ yang diperoleh dari

http://hendrinova.wordpress.com/2009/11/01/dongeng-religi-untuk-si-buah-hati/

Jumat, 08 April 2011

Tulisan Softskill Bahasa Indonesia 2

Nama : Wahyu Ardimas

Kelas : 3EA10

NPM : 11208271

Pengaruh Penggunaan Bahasa Gaul Terhadap Perkembangan Bahasa Indonesia Sebagai Identitas Bangsa

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, yang berfungsi sebagai alat komunikasi mempunyai peran sebagai penyampai informasi. Kebenaran berbahasa akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi yang disampaikan. Berbagai fenomena yang berdampak buruk pada kebenaran berbahasa yang disesuaikan dengan kaidahnya, dalam hal ini berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.


Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar mempunyai beberapa konsekuensi logis terkait dengan pemakaiannya sesuai dengan situasi dan kondisi. Pada kondisi tertentu, yaitu pada situasi formal penggunaan bahasa Indonesia yang benar menjadi prioritas utama. Penggunaan bahasa seperti ini sering menggunakan bahasa baku. Kendala yang harus dihindari dalam pemakaian bahasa baku antara lain disebabkan oleh adanya gejala bahasa seperti interferensi, integrasi, campur kode, alih kode dan bahasa gaul yang tanpa disadari sering digunakan dalam komunikasi resmi. Hal ini mengakibatkan bahasa yang digunakan menjadi tidak baik.


Berbahasa yang baik yang menempatkan pada kondisi tidak resmi atau pada pembicaraan santai tidak mengikat kaidah bahasa di dalamnya. Ragam berbahasa seperti ini memungkinkan munculnya gejala bahasa baik interferensi, integrasi, campur kode, alih kode maupun bahasa gaul.

Dewasa ini pemakaian bahasa Indonesia baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia film mulai bergeser digantikan dengan pemakaian bahasa anak remaja yang dikenal dengan bahasa gaul. Interferensi bahasa gaul kadang muncul dalam penggunaan bahasa Indonesia dalam situasi resmi yang mengakibatkan penggunaan bahasa tidak baik dan tidak benar.


Bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun 1980-an. Pada saat itu bahasa gaul dikenal sebagai bahasanya para bajingan atau anak jalanan disebabkan arti kata prokem dalam pergaulan sebagai preman.


Sehubungan dengan semakin maraknya penggunaan bahasa gaul yang digunakan oleh sebagian masyarakat modern, perlu adanya tindakan dari semua pihak yang peduli terhadap eksistensi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.


Dewasa ini, bahasa prokem mengalami pergeseran fungsi dari bahasa rahasia menjadi bahasa gaul. Dalam konteks kekinian, bahasa gaul merupakan dialek bahasa Indonesia non-formal yang terutama digunakan di suatu daerah atau komunitas tertentu. Penggunaan bahasa gaul menjadi lebih dikenal khalayak ramai setelah Debby Sahertian mengumpulkan kosa-kata yang digunakan dalam komunitas tersebut dan menerbitkan kamus yang bernama Kamus Bahasa Gaul pada tahun 1999.

Penggunaan bahasa gaul saat ini sudah sangat menggangu kekonsistensian bahasa Indonesia. Saat ini anak muda bahkan mungkin hampir seluruh warga negara Indonesia setiap harinya lebih suka menggunakkan bahasa gaul dibandingkan berbahasa Indonesia yang baik. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa Indonesia merupakan identitas bangsa Indonesia. Oleh karena itu pastinya ini mungkin merupakan sebuah awal dari kehancuran bahasa Indonesia.

Ketenaran bahasa gaul saat ini dikalangan masyarakat sangatlah tinggi. Kita dapat melihat itu di sekitar kita, banyak orang yang menggunakkan bahasa gaul dalam percakapan sehari-hari khususnya dikalangan anak muda. Mereka saat ini lebih sering menggunakkan bahasa gaul dibandingkan bahasa Indonesia yang benar, sebagai contoh dalam penulisan sms. Mereka biasanya menggunakkan kata-kata gaul seperti kagak, kemaren, ntar, dll. Bahkan yang lebih parah lagi saat ini mereka biasanya menggabungkan huruf dan angka untuk menjadi sebuah kata, seperti 6ak, k4p4n, blan9in, dll.

Dengan semakin berkembangnya penggunaan bahasa gaul dikalangan masyarakat saat ini sudah tidak dapat ditoleransi lagi. Karena itu dapat melunturkan bahasa Indonesia, dan apabila itu terjadi sama saja dengan lunturnya identitas bangsa. Untuk itulah kita sebagai warga negara Indonesia sebaiknya memperhatikan bahasa kita. Apalagi sebagaimana kita ketahui bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa dikala zaman penjajahan. Janganlah kita membuat perjuangan orang-orang zaman dahulu dalam mempersatukan bangsa dengan bahasa Indonesia menjadi sia-sia. Jadi, mulai saat ini gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan juga awasilah orang-orang disekitar kita dalam menggunakkan bahasa.

Sumber :

http://mocoe.wordpress.com/2010/10/06/pengaruh-bahasa-gaul-remaja-terhadap-bahasa-indonesia/

Jumat, 01 April 2011

Tugas Softskill B.Indonesia 2

Nama : Wahyu Ardimas

Kelas : 3EA10

NPM : 11208271

PROPOSAL

Pengertian dari proposal adalah sebuah tulisan yang dibuat oleh si penulis yang bertujuan untuk menjabarkan atau menjelasan sebuah tujuan kepada si pembaca (individu atau perusahaan) sehingga mereka memperoleh pemahaman mengenai tujuan tersebut lebih mendetail. Diharapkan dari proposal tersebut dapat memberikan informasi yang sedetail mungkin kepada si pembaca, sehingga akhirnya memperoleh persamaan visi, misi, dan tujuan. Ada beberapa hal yang biasanya di detailkan dalam proposal bisnis:

1. Penjabaran mendetail mengenai tujuan utama dari si penulis kepada pembacanya.

2. Penjabaran mendetail mengenai proses bagaimana mencapai tujuan si penulis kepada pembacanya.

3. Penjabaran mendetail mengenai hasil dari proses yang telah dijabarkan diatas sehingga mencapai tujuan yang diinginkan oleh si penulis dan juga si pembaca.

Sistematika Penulisan Proposal

a. Pendahuluan

b. Dasar Pemikiran

c. Tujuan Kegiatan

d. Tema Kegiatan

e. Jenis Kegiatan

f. Target Kegiatan

g. Sasaran/Peserta Kegiatan

h. Waktu Dan Tempat Pelaksanaan

i. Anggaran Dasar

j. Susunan Panitia

k. Jadwal kegiatan

l. Penutup

Contoh Proposal :

STUDI DESKRIPTIF PENERAPAN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
SMA NEGERI 7 TANGERANG
TAHUN 2007
Oleh :
XII. IS 2
1. Christian Fernando NIS. 04051007
2. Ray Hidayat NIS. 04051247
SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) NEGERI 7
TANGERANG
Jl. Perintis Kemerdekaan 1 No.2 Tangerang
2006 / 2007


1. Latar Belakang Masalah

Belakangan ini, seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi di era globalisasi yang tengah ramai dibicarakan di masyarakat kita serta mengenai era perdagangan bebas yang akan dimulai sebentar lagi, pemerintah mencanangkan kegiatan – kegiatan pembaruan yang kelak akan berguna guna menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas.

Mewujudkan pemuda – pemudi yang dapat menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas, serta dapat menjadi wakil Indonesia dalam mengembangkan segala potensi Negara kita nantinya yang tetap berdasar pada dasar Negara kita yakni PANCASILA tentu menjadi cita –cita pemerintah yang harus segera diwujudkan dengan strategi yang efektif mengingat sedikitnya waktu yang tersisa.

Pendidikan adalah sektor yang merupakan bagian penting dari usaha pemerintah guna mewujudkan cita citanya. Adapun pemerintah segera memberdayakan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi atau “KBK” guna mendapatkan hasil maksimal dari bidang pendidikan.

Berdasarkan pengamatan atas usaha dari pemerintah tersebut, penulis ingin mengetahui apakah sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi tersebut sudah diterapkan secara baik dan menyeluruh di segala bidang khususnya di SMA Negeri 7 Tangerang.

Dari uraian di atas, untuk mengetahui lebih lanjut tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMA Negeri 7 Tangerang, penulis bermaksud melakukan penelitian yang diberi judul “ Studi Deskriptif Penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SMA Negeri 7 Tangerang”.

2. Pembatasan dan Perumusan Masalah

Pembatasan masalah dilakukan agar permasalahan tetap berada pada lingkup yang sesuai serta selalu terarah, diperlukan beberapa pertanyaan yang membatasi masalah ini, sehingga dapat dicapai solusi yang tepat pada pokok permasalahan. Adapun pertanyaan – pertanyaan yang peneliti ajukan adalah sebagai berikut :
Apakah “KBK” sudah diterapkan dengan baik di SMA Negeri 7 Tangerang ini ?
Bagaimana pendapat semua perangkat sekolah baik tentang sistem “KBK” ini ?

3. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan peneliti melakukan penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui bagaimana sistem “KBK” di SMA Negeri 7.
Untuk mengetahui tanggapan para perangkat sekolah tentang sistem “KBK” di SMA Negeri 7 Tangerang.

Manfaat dari penelitian ini adalah :

Menambah pengetahuan khusnya bagi penulis dalam hal penelitian.
Sebagai bahan rujukan atau perbandingan bagi Bapak Kepala Sekolah SMA Negeri 7 Tangerang tentang “KBK” di SMA Negeri 7 Tangerang sehingga dapat melakukan tindakan tepat yang efektif bila masih terdapat kelemahan sehingga SMA Negeri 7 dapat menjadi SMA Favorit.

4. Landasan Teori


Landasan teori adalah bagian penting dalam suatu penelitian, adapun guna dari landasan teori adalah agar penelitian dapat tepat sasaran dan efektif. Adapun beberapa landasan teori disini :

a. Sekolah. Sekolah adalah tempat berkumpulnya seseorang yang ingin mendapatkan ilmu (siswa) dengan fasilitas lainnya dalam rangka membantu proses mendapatkan ilmu atau belajar.

b. Kepala Sekolah. Kepala sekolah atau Headmaster adalah seseorang yang memegang pimpinan paling tinggi dalam sekolah. Biasanya berfungsi sebagai pengatur, pengawas, maupun pengambil kebijakan dengan tujuan efektifnya kegiatan belajar mengajar yang terjadi di sekolah.

c. Guru. Guru adalah bagian dari fasilitas belajar seseorang yang ingin mendapatkan ilmu. Guru berfungsi sebagai pengajar atau media belajar dari siswa tersebut.

d. Siswa. Siswa adalah seseorang yang ingin mendapat ilmu guna digunakan atau dikembangkan dalam kehidupannya guna mencapai cita – cita hidup atau tujuan dari siswa tersebut.

5. Metodologi Penelitian

Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif.

Metode deskriptif adalah metode penelitian yang meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu kondisi, suatu pemikiran ataupun suatu peristiwa masa sekarang. ( Idianto M, 2006: 85, 86).
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah penulis dapat mengetahui gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta gejala yang sudah diselidiki.

Adapun langkah – langkah penelitiannya sebagai berikut :

Menyusun proposal penelitian sosial. Penyusunan proposal dilakukan sebagai langkah awal dalam melakukan penelitian. Penyusunan ini terdiri dari menentukan topik yang dipilih. Setelah itu peneliti merumuskan masalah.
Mengumpulkan data. Pengumpulan data dilaksanakan setelah proposal penelitian disetujui oleh guru pembimbing. Untuk mengumpulkan data, penulis menetukan dengan cara Kuesioner dan Wawancara.
Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka antara si peneliti dengan objek penelitian ( Idianto M, 2006: 121 )
Kuesioner adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara menyebarkan selebaran yang diisi oleh objek penelitian. ( Idianto M, 2006: )
Pengolahan Data. Setelah data – data terkumpul, penulis akan mengolah data tersebut dengan teknik tabulasi.
Penyusunan Laporan. Setelah tahap – tahap sebagaimana diuraikan diatas, maka langkah selanjutnya adalah menyusun laporan agar tujuan dan manfaat dapat dikomunikasikan.

6. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan dari Bulan Januari sampai dengan Bulan Maret 2007.

7. Personalia Penelitian
1. Nama Lengkap : Christian Fernando NIS.04051007
2. Nama Lengkap : Ray Hidayat NIS.04051247

8. Anggaran Biaya
Anggaran biaya pada penelitian ini diperoleh dari iuran anggota dengan rincian :

A. Pemasukan
Iuran Anggota :@Rp. 45.000,00 X 2 = Rp. 90.000,00
B. Pengeluaran
Penyusunan Proposal Rp. 40.000,00
Pembuatan Pertanyaan Untuk Kuesioner Rp. 30.000,00
Wawancara Rp. 20.000,00 +
Total pengeluaran Rp. 90.000,00

9. Daftar Pustaka
M. Widianto. Sosiologi untuk SMA jilid 1,2,3, Jakarta, 2004. Erlangga

Sumber :

http://yudhim.blogspot.com/2008/01/contoh-proposal-penelitian-sosial.html

http://chandil.wordpress.com/2007/05/02/definisi-proposal/

http://www.scribd.com/doc/7750045/Proposal

Tugas Softskill B.Indonesia 2

Nama : Wahyu Ardimas

Kelas : 3EA10

NPM : 11208271

LAPORAN

Kata “Lapor” dibentuk dari kata dasar “Lapor” dan mendapatkan akhiran (sufiks)-an, yang dapat diberi arti sebagai segala sesuatu yang dilaporkan atau pemberitahuan tentang sesuatu. Pengertian laporan menurut The Oxford English Dictionary dalam kusumah, dkk (2002:2.3) adalah:

a). Cerita yang dibawakan oleh seseorang kepada orang lain yang diteliti secara khusus.

b). Pernyataan formal hasil penelitian, tentang sesuatu hal yang memerlukan informasi yang pasti, dibuat oleh seseorang atau sebuah lembaga atau harus melakukannya.

Siswanto (1982: 62) memberikan batasan tentang laporan report yaitu sebagai informasi tertulis yang dimaksudkan sebagai pertanggungjawaban atas sesuatu penugasan. Laporan juga dapat dikatakan sebagai sesuatu macam dokumen yang disampaikan atau menyampiakan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau tengah diselidiki, dalam bentuk fakta-fakta yang diarahkan kepada pemikiran atau tindakan yang akan diambil (Keraf,1993:284). Sejalan dengan Keraf. Perera (1987:56) mengemukakan laporan pada dasarnya suatu bentuk penyampaian dan perjanjian fakta-fakta dan pemikiran-pemikiran guna tindakan.

Dari beberapa pendapat pengertian laporan diatas dapat disimpulkan bahwa laporan merupakan suatu bentuk penyampaian dan penyajian hasil kegiatan baik secara lisan maupun tertulis atau dokumen berupa fakta-fakta yang dimanfaatkan guna mengambil sebuah keputusan atau tindak lanjut bagi sesorang atau lembaga atau instansi tertentu.

  • Fungsi Laporan

Laporan berfungsi sebagai dokumen otentik yang dapat dijadikan sebagai bahan studi orang lain dan sebagai sumber pengalaman bagi orang lain.

  • Isi Laporan

Laporan yang kita buat hendaknya berisi hal-hal sebagai berikut:

1) Fakta yang menyangkut semua aspek kegiatan

2) Kegiatan yang dilakukan

3) Tercapai tidaknya tujuan yang telah ditetapkan.

4) Saran-saran

  • Waktu Penulisan

Penulisan laporan dilakukan setelah kita selesai melaksanakan kegiatan, seperti percobaan, seminar, perlomban, rapat, karyawisata, dan kegiatan lain yang telah diprogramkan sebelumnya.

  • Tujuan Laporan

Tujuan laporan antara lain:

1) untuk mengetahui suatu masalah.

2) untuk mengetahui kemajuan atau perkembangan suatu masalah.

3) supaya dapat mengambil keputusan yang lebih efektif.

4) untuk menemukan teknik-teknik baru.

5) sebagai sarana mengadakan pengawasan dan perbaikan

  • Sifat Laporan

1) Laporan harus ditulis dengan bahasa yang baik dan jelas.

2) Fakta-fakta atau bahan-bahan yang disajikan pelapor harus dapat menimbulkan kepercayaan.

3) Laporan harus mengandung imajinasi dalam pengertian:

-Pelapor harus tahu betul siapa yang menerima laporan.

-Seberapa dalam pengetahuan si penerima laporan mengenai masalah yang dilaporkan.

-Bagaimana kesibukan penerima laporan.

4) Laporan yang dibuat harus sempurna dan lengkap.

5) Laporan harus disajikan secara menarik.

  • Jenis-Jenis Laporan

Menurut jenisnya laporan dibedakan atas laporan formal dan laporan non formal. Laporan formal adalah laporan yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1) ada halaman judul

2) ada surat atau pernyataan penyesalan

3) ada daftar isi

4) ada ikhtisar atau abstrak

5) ada pendahuluan, isi, dan penutup

Laporan non formal adalah laporan yang tidak memenuhi beberapa unsur formal di atas. Laporan ini bersifat pribadi yang disesuaikan dengan kepentingan penulisannya.

  • Bentuk-bentuk Laporan

1) Formulir isian

Laporan bentuk ini biasanya sudah disiapkan blangko isian yang diarahkan kepada tujuan yang hendak dicapai. Laporan ini sifatnya rutin.

2) Surat

Laporan bentuk ini biasaya digunakan untuk mengemukakan suatu subjek atau topik agar diketahui oleh penerima laporan. Laporan ini tidak banyak menggunakan tabel dan angka, tetapi bentuknya lebih panjang dari surat biasa.

Contoh Laporan

BAB I PENDAHULUAN

Sejarah, dalam bahasa Indonesia dapat berarti riwayat kejadian masa lampau yang benar-benar terjadi atau riwayat asal usul keturunan (terutama untuk raja-raja yang memerintah). Kata Sejarah berasal dari kata Syajaratun atau Syajarah dalam bahasa Arab yang artinya pohon atau silsilah. Umumnya sejarah atau ilmu sejarah diartikan sebagai informasi mengenai kejadian yang sudah lampau. Sebagai cabang ilmu pengetahuan, mempelajari sejarah berarti mempelajari dan menerjemahkan informasi dari catatan-catatan yang dibuat oleh orang perorang, keluarga, dan komunitas. Pengetahuan akan sejarah melingkupi: pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis.


Di Sulawesi Selatan tepatnya di kabupaten maros terdapat tempat yaitu gua leang-leang yang diperkirakan sebagai tempat tinggalnya manusia pubakala sekitar 5000 tahu nsebelum masehi. Adapun dua gua tersebut adalah: Leang Pettae, terletak pada posisi astronomis 04º58'44.6"LS dan 119º40'30.5"BT dengan ketinggian 50 m dpl. Arah mulut gua menghadap ke sebelah barat dengan ukuran tinggi 8m dan lebar 12m. Suhu udara di dalam gua sekitar 30º C dengan kelembaban 70% dalam rongga gua, sementara kelembaban dinding gua berkisar antara 15% - 25%. Peninggalan-peninggalan yang ditemukan pada gua ini adalah berupa 5 gambar telapak tangan, satu gambar babi rusa, artefak serpih bilah serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut gua. Untuk mencapai gua ini kita harus menaiki beberapa tangga yang berjumlah 26 buah.

A. TUJUAN PENELITIAN
Karena hal tersebut maka kami melakukan penelitian yang bertujuan untuk :
- Mempelajari, memahami dan memeprdalam wawasan tentang kehidupan manusia dimasa lampau, 500 tahun sebelum masehi.
- Memahami bagaiman cara masyarakat dulu untuk dpat bertahan hidup.

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimankah peran gua leang-leang terhadap kehidupan manusia dimasa lampau.

C. HIPOTESIS
Setelah melihat taman pubakala gua leang-leang, saya menduka bahwa manusia yang hidup pada 5000 tahun sebelum masehi di gua leang-leang itu sering bersosialisasi dengan cara berpindah dari satu goa ke goa lain, karena didalam gua leang-leang terdapat dua macam gua lagi, yakni leang pattae yang diaman terdapat suku toala yang hidup antara 40 s/d 50 orang, leang pattakere adalaha leang yang berada pada tbing bukit yang memiliki kurang lebih 82 anak tangga.

D. POKOK-POKOK PENELITIAN
Pokok penelitian saya adalah bagaimana proses kehidupan manusia-manusia purba yang hidup di gua leang-leang.

E. METODE PENELITIAN
Metode yang dilakukan dalam penelitian gua leang-leang adalah
- Wawancara
- Melihat langsung ke gua leang-leang.
- Sumber-sumber bacaan

BAB II GUA LEANG-LEANG SEBAGAI TAMAN BUDAYA NASIONAL

A. SEJARAH PENEMUAN GUA LEANG-LEANG
Sebuah gua dengan stalaktif dan stalakmitnya yang menakjubkan dan apabila kita berada dalam gua tersebut serasa di alam mimpi..Beberapa kilometer sebelum jalan berbelok menuju ke Bantimurung terdapat Gua Leang Leang. Gua ini diperkirakan menjadi tempat kediaman manusia purba yang hidup di daerah ini pada masa 8000 hingga 30.000 tahun yang lalu. Di dalam gua terdapat lukisan tua yang dilukis pada dinding gua yang diperkirakan berusia 5000 tahun SM.. Di wilayah ini terdapat sedikitnya 60 gua. Salukan Karang adalah gua terbesar di wilayah ini dengan panjang mencapai 11 Km namun tidak semua pengunjung diperbolehkan masuk ke gua ini. Tempat yang disebut juga Taman Prasejarah Leang-leang ini terletak pada deretan bukit kapur yang curam dan para arkeolog berpendapat bahwa beberapa gua yang terdapat di sekitar kawasan tersebut pernah dihuni manusia yang ditandai dengan lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa serta puluhan gambar telapak tangan yang ada pada dinding- dinding gua. Selain lukisan prasejarah, juga terdapat benda laut berupa kerang yang menandai bahwa gua tersebut juga pernah terendam dan dikelilingi oleh laut.
Obyek Wisata Alam Gua Pattunuang selain kaya akan stalaktit dan stalakmit yang menakjubkan, juga panorama alam sekitarnya sangat menawan dan indah. berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka dapat dijumpai ditambah dengan bentangan pegunungan yang curam dan bertebing.
Gua leang-leang mulai dipugar pada tahun 1977 lalu diresmikan 10 januari 1980 oleh Menteri Dr. Da’ Yusuf. Dan dijadikan taman wisata yang dilindungi.


B. PARA AHLI MELAKUKAN PENELITIAN DI GUA LEANG-LEANG
Gua ini merupakan awal dari penelitian-penelitian terhadap gua-gua prasejarah dan awal penemuan lukisan yang terdapat di Kabupaten Maros. Penelitian tersebut dilakukan pada tahun 1950 oleh Van Heekeren dan Miss Heeren Palm. Heekern menemukan gambar babi rusa yang sedang meloncat yang bagian dadanya terdapat mata panah menancap, sedangkan Miss Heeren Palm menemukan gambar telapak tangan dengan latar belakang cat merah.
Sejak itulah penelitian-penelitian di kawasan karst Maros-Pangkep dilakukan lebih intensif dan menghasilkan data yang melimpah tentang jejak hunian prasejarah di kawasan tersebut berdasarkan hasil pendataan terakhir yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Makassar terdapat 100-an leang prasejarah yang tersebar di kawasan karst Maros-Pangkep.

C. PENINGGALAN-PENINGGALN BUDAYA DI GUA LEANG-LEANG
Leang Petta Kere, berada 300 m di sebelah timur Leang Pettae pada posisi 04º58'43.2"LS dan 119º40'34.2"BT. Leang ini berada pada ketinggian 45 m dpl dan 10 m dpl. Meskipun berada pada tebing bukit, pada bagian pintu gua yang menghadap ke sebelah barat masih terdapat lantai yang menjorok keluar selebar 1-2 m dan berfungsi sebagai pelataran gua. Leang Petta Kere termasuk gua dengan tipe kekar tiang. Suhu udara di dalam gua sekitar 27 C dengan kelembaban rongga gua sekitar 65% sementara kelembaban pada dinding gua berkisar antara 17%-22%. Utuk mencapai gua ini kita harus menaiki anak tangga sebanyak 64 buah. Peninggalan yang ditemukan pada leang ini berupa 2 gambar babi rusa dan 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah dan mata panah.
Yang ada didalam gua leang –leang adalah :
- Telapak tangan
- Gambar babi rusa yang didadanya terdaat tancapan panah
- Gamabr babi
- Alat-alat mata panah
- Kapak dari batu
- Oker untuk pewarna merah
- Fosil-fosil sisa makanan berpa kulit kerang.

D. ARTI DAN MAKNA HASIL-HASIL BUDAYA DI GUA LEANG-LEANG
Dari penemuan-penemuan yang didaptkan dalam gua leang-leang diperkirakan bahwa manusia yang hidup pada saman itu masih menggunakan alat pemotong tradisional, dan mereka sudah mengenal tentang berburu tapi masih pindah-pindah.
Gambar telapak tangan dipercaya sebgai penolak bala roh jahat yang akan mengganggu. Babai rusa yang didadanya tertancapa panah sebagai symbol saaat berburu bias berhasil. TElapak tangan yag berjari empat di yakini sebagai bentuk turut berkabung jika ada anggota yang meninggal.

BAB III ASPEK KEHIDUPAN MASYARAKAT DI GUA LEANG-LEANG
A. RELIGI
Religi masayarakat di gua leang-leang adalah menganut paham animisme (percaya terhadap roh nenek moyang) serta dinamisme ( percaya terhadpa benda-benda gaib).

B. POLITIK
Mereka diperkirakn hidup berkelompok, dan memilikh kepala suku yang dapat melindungi mereka dan mengatur hidup mereka serta memberikan rasa aman untuk kelompoknya.

C. EKONOMI
Kelompok yang hidup di goa leang-leang masih sederhana dengan mengandalakan berburu rusa atau babi hutan serta dilaut dengan mencari ikan.

D. SOSIAL
Mereka juga hidup dengan cara berpindah dari goa satu ke goa lain, untuk keamaa dan mencari sumber makanan yang kebih banyak.

E. BUDAYA
Karena meraka belum berfikir tentang bagimana lebih hidup lebih baik, mereka Cuma memikirkan bagaimana melindungi anggota lain serta non maden, sehingga bidaya mereka Cuma bentuk paham-paham sering pindah-pindah. Mereka juga sedah menghasilkan alat-alat berburu walaupun terbuat dari batu.


BAB IV KESIMPULAN & PENUTUP

A. KESMPULAN
Menurut benda-benda yang ditemukan di gua leang-leang bahwa terdapat bentuk kehidupan yang dihuni oleh kelompok-kelompok manuia purba yang dipekirakan mereka hidup 5000 tahun sebelum masehi. Mereka sudah mengenal cara berburu dan sudah mengenal tentang agama walaupun masih percaya dengan roh nenek moyang ataupun benda-benda gaib seperti baru besarm pohon besar dan lain-lain yang bentuknya besar dan diperkirakan sudah lama melebihi hidup manusia purab yang hidup di sekitar gua leang-lean.

B. PENUTUP
Taman Prasejarah Leang-Leang merupakan objek wisata andalan Kabupaten Maros yang berada tidak jauh dari Taman Wisata Alam Air Terjun Bantimurung. Leang-leang dalam bahasa lokal berarti gua. Di sekitar Taman Prasejarah ini terdapat banyak gua yang memiliki peninggalan arkeologis yang sangat unik dan menarik. Pada tahun 1950, Van Heekeren dan Miss Heeren Palm menemukan gambar gua prasejarah (rock painting) yang berwarna merah di Gua Pettae dan Petta Kere. Van Heekeren menemukan gambar babi rusa yang sedang meloncat yang di bagian dadanya tertancap mata anak panah, sedangkan Miss Heeren Palm menemukan gambar telapak tangan wanita dengan cat warna merah. Menurut para ahli arkeologi, gambar atau lukisan prasejarah tersebut sudah berumur sekitar 5000 tahun silam. Dari hasil penemuan itu, mereka menduga bahwa gua tersebut telah dihuni sekitar tahun 8000-3000 sebelum Masehi. Untuk melestarikan dan memperkenalkan gua-gua yang merupakan sumber informasi prasejarah tersebut, maka sejak tahun 1980-an pemerintah setempat mengembangkannya menjadi tempat wisata sejarah dengan nama Taman Wisata Prasejarah Leang-Leang. Saat ini, pemerintah setempat telah merencanakan membangun beberapa sarana dan prasarana di sekitar tempat wisata tersebut, seperti cottage, baruga (Gedung) pertemuan dan saluran air bersih.
Taman Prasejarah Leang-Leang yang terletak pada deretan bukit kapur yang curam ini merupakan obyek wisata yang memiliki nilai-nilai sejarah yang sangat menarik. Di tempat ini para pengunjung dapat menyaksikan berbagai macam peninggalan nenek moyang, seperti lukisan prasejarah berupa gambar babi rusa dan puluhan gambar telapak tangan yang melekat pada dinding-dinding gua. Gambar-gambar yang berwarna merah marum tersebut bahan pewarnanya terbuat dari bahan alami yang sulit terhapus. Menurut para ahli tangan, gambar telapak tangan tersebut adalah milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai peralatan yang terbuat dari batu, sisa-sisa makanan berupa ulang binatang dan benda-benda laut berupa kulit kerang yang berjumlah banyak. Di salah satu batu di mulut gua terlihat jelas kulit kerang terdapat menempel bersatu dengan batu gua itu. Para ahli memperkirakan bahwa berabad-abad lalu Kabupaten Maros merupakan lautan yang bersatu dengan Laut Jawa.
Di sekitar Taman Prasejarah Leang-Leang juga terdapat banyak gua-gua lainnya yang memiliki karakteristik berbeda dan menyimpan peninggalan prasejarah dengan masing-masing keunikannya, seperti: Leang Bulu Ballang yang menyimpan senjumlah mollusca, porselin dan gerabah, serta dinding-dindingnya dapat dimanfaatkan sebagai areal panjat tebing; Leang Cabu yang sudah sering dijadikan sebagai tempat latihan para pemanjat tebing, dan di hadapan mulut leang ini, tampak aktivitas pertambangan batu kapur serta hamparan sawah yang luas; dan Leang Sampeang yang memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh leang lainnya, yaitu terdapat gambar manusia berwarna hitam. Kesemua leang tersebut memiliki jarak yang relatif dekat antara satu dengan yang lainnya, sehingga mudah untuk dikunjungi.
Dan kalau diteliti secara keseluruhan di Indonesia di yakini pernah ada bentuk kehidupan manusia-manusia purba yang tersebar di nusantara. Sebgai generasi muda, kita harus lebih berfikir bagaimana cara agar artefak-artefak ini bias ada dan tetap terjaga sampai anak cucu kita.

LAMPIRAN
1. PETA MAROS
2. PETA BANTIMURUNG
3. PETA LOKASI GUA LEANG-LEANG
4. HASIL DOKUMENTASI SISWA DALAM PENELITIAN

Sumber :

http://definisi-pengertian.blogspot.com/2010/08/pengertian-laporan.html

http://pgsd2009b.files.wordpress.com/2010/12/kel-2-membaca.pdf